Minggu, 10 Agustus 2008

TROTOAR... (INI UNTUK MEREKA)

Bintang besar itu perlahan-lahan melaju ke peraduannya, mungkin dia telah lelah menemani aktifitas manusia sepanjang hari ini. Inilah pertanda bagi sang dewi malam untuk menggantikan tugas si bintang besar. Udara dingin mulai menusuk tulang belulang. Lentera-lentera kecil mulai menerangi lapak makanan yang biasa mereka sebut dengan “Angkringan Kopi Joss”. Tidak mewah memang, hanya lapak pinggir jalan yang amat sangat sederhana. Namun itulah simbol sebuah kemapanan a la Jogja. Jangan harap menemukan deretan mobil mewah, yang ada hanyalah deretan motor, sepeda, dan becak.
***
Kaki kecil itu melangkah dengan pasti ke arahku. Sandal jepit itu telah menemaninya melangkah seharian. Beserta dengan keringatnya yang telah mengering, dia duduk di sebelahku. Tatapan matanya sayu dan tak berdaya seakan mengharapkan belas kasih dariku. Perutnya mengempis semenjak tadi, cacing yang tinggal di sana ternyata sedang membutuhkan sesuap nasi. Pakaiannya yang lusuh bercampur dengan debu jalanan membuat dia tampak seperti korban dari kerasnya hidup di jalanan kota Jogja (yang terkenal dengan keramahannya).
“Apakah kau manusia yang baik?”, kata-kata itu keluar dari mulutnya yang mungil.
“Mengapa kau tanya seperti itu, Adik kecil?”, tanyaku.
“Jika kau memang manusia yang baik, maukah kau memberikanku sesuap nasi?”
“Apakah aku harus menjadi manusia yang baik dulu jika aku mau memberikanmu sesuap nasi? lantas apakah manusia yang baik itu pasti juga memiliki hati?”, kataku padanya.
Anak kecil itu terdiam. Pandangannya kini mengarah kepada segerombolan orang yang sedari tadi menikmati hangatnya teh dan panasnya nasi bakar. Tawa lebar yang selalu mengembang di bibir mereka tampaknya telah membuat anak kecil itu iri hati. Ingin hatinya juga dapat merasakan apa yang orang-orang itu rasakan. Keinginan untuk dapat menikmati apa yang dia impikan. Dirabanya perutnya yang sudah meronta-ronta. Dia sudah tidak tahan lagi. Tangannya kini gemetar. Mulutnya terkatup rapat. Dia tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya pandangan matanya yang terus mengarah ke segerombolan orang itu. Mengisyaratkan bahwa saat ini yang dia butuhkan adalah sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang kosong.
***
Dialah korban ketidakadilan. Dialah korban kebodohan negeri ini. Meninggalkan segala mimpi yang dia coba untuk raih. Anak kecil itu tidak pernah merasakan nikmatnya menempati sebuah gubuk mimpi yang dia bangun sendiri. Menumpang dalam asa dan harapan milik orang lain. Sungguh menyesakkan hati. Kini dirinya ingin menjerit, namun apa daya... mulut jahatnya telah tertutup rapat-rapat. Dia tidak ingin terbuka. Dia hanya ingin membisukan suara hati si anak kecil. Dia tidak ingin orang lain mendengar jeritan dari si anak yang selalu inginkan mimpinya.
Hanya lentera kecil yang akan menemani tidurnya. Hanya sehelai kain lusuh yang akan menghangatkan tubuhnya dari dinginnya angin malam. Hanya dengungan nyamuk kecil yang akan menjadi musik pengantar ke alam mimpinya.
Bukan canda tawa akan kepuasan yang menghiasi hari-harinya, melainkan canda tawa kegetiran yang akan selalu melingkupi mimik mukanya. Dia tidak mengharapkan suatu perubahan dalam hidupnya, melainkan sebuah kepastian. Kepastian bahwa suatu saat mimpi-mimpinya akan menjadi nyata.

Tidak ada komentar: