Ketika itu, saya duduk terdiam di sebuah kursi tua yang saya duduki sejak tadi. Walaupun kursi tua itu sudah cukup berumur, namun entah mengapa kursi tersebut masih terasa nyaman untuk diduduki. Anyaman rotan yang teruntai juga terlihat belum rusak. Kayu jati yang menjadi bahan dari kursi tersebut tampak begitu kokoh menopang setiap bagian dari kursi yang sudah terlanjur dimakan oleh zaman. Saya jadi berpikir, apa yang membuatnya begitu kokoh meskipun nenek saya membeli kursi itu pada tahun 1956. Sayapun bertanya kepada nenek mengenai “rahasianya”. Nenek pun menjawab bahwa itu semua karena kasih. Kasih? Tanya saya dalam hati saya. Nenek menjelaskan bahwa dia sangat mengasihi kursi tua tersebut. Dengan kasih lah nenek selalu merawat kursi tersebut sehingga nenek tidak akan pernah membiarkan kursi tua itu untuk rusak dimakan rayap. Ternyata tidak hanya pada kursi tua saja nenek memberikan “kasihnya”. Tetapi kepada semua barang dan tanaman yang ada di rumahnya. Nenek berkata bahwa tanaman dan barang juga memerlukan kasih dari sang empunya. Kasih untuk merawat dan memelihara sebuah keutuhan. Meskipun barang dan tanaman yang ada di ruman nenek sangat beraneka ragam, namun nenek tidak pernah membeda-bedakan itu semua. Baginya, semua itu sama. Sama-sama sesuatu yang harus dijaga, dirawat, dan dipelihara…
Memang paragraph di atas hanyalah sebuah analogi yang saya berikan untuk memberikan gambaran bahwa kasih “tidak memandang”. “Tidak memandang” dalam hal ini adalah tidak memandang latarbelakang, status, dan perbedaan. Kasih adalah sesuatu yang sangat universal. Kasih sangat menyukai adanya kebersamaan dalam keberagaman.
Selama bertahun-tahun, bangsa Indonesia telah didera oleh berbagai konflik yang mengatasanamakan perbedaan. Perbedaan ras, suku, dan agama telah menjadi sebuah jurang pemisah antara sesama bangsa Indonesia. Agama menjadi salah satu unsur yang sensitive untuk memicu timbulnya sebuah konflik. Contoh nyata adalah kasus yang baru-baru ini terjadi yakni penyerangan sejumlah anggota FPI terhadap para aktivis AKKBB di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu. Kasus penyerangan ini sangatlah disayangkan jika mengingat bahwa kita hidup dalam sebuah negara yang sejak awal sudah memiliki kemajemukan dalam beragama dan kita tidak dapat menghindari itu. Kemajemukan beragama yang seharusnya menjadi perekat diantara kita sesama bangsa Indonesia sepertinya menjadi sebuah pemicu bagi timbulnya keretakkan. Saling menjelekkan, menyerang dan menjatuhkan antar umat beragama menjadi hal yang lumrah bila salah satu kelompok ingin menunjukkan eksistensinya. Kaum mayoritas menganggap bahwa kaum minoritas adalah kaum yang tersisih. Oleh sebab itu kaum minoritas harus selalu hidup dalam himpitan-himpitan dan kurang diberikan keleluasaan dalam melaksanakan ibadah. Meskipun kebebasan dalam beragama dan melaksanakan ibadah telah diatur dalam UUD 1945 namun tetap terkadang perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan sering diterima oleh kaum minoritas. Tetapi apakah mereka dapat bersuara ditengah-tengah hutan belantara? Apakah ada yang dapat mendengarkan jeritan mereka? Tentu saja tidak, karena kaum minoritas hanya dapat menjerit dalam hati tanpa ada yang mengetahui.
Jika sudah begini kedaannya apakah sudah tidak ada kasih lagi di antara kita? Kasih yang terpancar antara satu dan yang lainnya. Kasih yang saling merekatkan meskipun kita berbeda dalam agama. Kasih yang tidak hanya kita berikan kepada mereka yang seagama dengan kita tetapi juga kepada mereka yang berbeda agama dengan kita. Kasih yang dapat memelihara kita meskipun kita berbeda satu dan yang lainnya. Kasih yang tidak melihat adanya sebuah perbedaan agama yang dapat memicu keretakkan. Kasih yang seharusnya menjadi alat untuk melihat bahwa perbedaan agama adalah sebuah realita yang tidak dapat kita hindari. Kasih yang memandang keberagaman dalam agama yang seharusnya menjadi kekayaan bagi bangsa Indonesia. Kekayaan harafiah yang menjadi modal bagi kita untuk dapat saling belajar dalam perbedaan dan membuat kita semakin dewasa.
Ini hanyalah sebuah tulisan yang bersifat utopis dan terlalu klise. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai (yang konon katanya) umat beragama dapat saling mengasihi dalam perbedaan agama? Tentu saja jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing dan dapat menjadi bahan untuk mengkoreksi diri kita sendiri.
Minggu, 10 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar