Minggu, 10 Agustus 2008

PERTEMUAN YANG PERTAMA (;P)

DIA
“pertemuan yang pertama....”
Bau besi tua itu sungguh menyengat di hidung. Tak tahu dari mana asalnya. Tetapi yang jelas jam di sudut ruangan itu sudah menunjukkan pukul 12.20. Sudah saatnya bagi wanita muda itu untuk melepaskan kekasihnya pergi ke dunia antah berantah. Entah untuk berapa lama... dan sampai kapan...
***
Hari itu adalah hari sabtu. Wanita muda yang sedang beranjak dari mimpinya itu bergegas menuju ke ruang makan. Diusapnya kedua matanya yang sembab, tanda bahwa semalaman titik air mata keluar dari mata mungilnya. Dia tidak dapat berbuat apa-apa. Terdiam lesu duduk diatas kursi tua yang sudah ada sejak dia berumur lima tahun. Pandangannya kosong tak berarti. Dibiarkannya televisi menyala, menayangkan acara-acara yang menurutnya tidak berarti. Tetap hatinya kini hampa...pikirannya kini melayang jauh ke tanggal 21 Mei.
Hatinya berdegup kencang. Adrenalin memuncak seketika di ujung telunjukknya. Sekelompok orang meneriakkan kata-kata yang pada intinya menghujat pemerintah.
“Hum... jika ini terjadi pada jamannya Suharto, pasti mereka sudah habis! tamatlah riwayat mereka! Jiwa muda mereka akan hilang seiring dengan jasad mereka! Yah... seperti nasib Wiji Tukul...” kata wanita muda itu dalam hati.
Panas terik yang memanggang tubuh mereka sepertinya tidak mematahkan semangat darah juang mereka untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan bagi bangsa ini. Slogan dan suara dari megafon terdengar riuh di siang bolong. Mereka tidak tahu bahwa di ujung jalan, lusinan selongsong peluru telah menunggu mereka. Menunggu untuk bersarang di dalam tubuh mereka. Tetapi sepertinya, daging dan kulit tidak terlalu memperdulikan itu semua. Bagi sekelompok pejuang muda itu, yang mereka takutkan bukanlah selongsong peluru, melainkan redupnya kobaran api juang yang selama ini menjadi nafas mereka.
Dengan wajah pucat pasi, wanita muda itu memandang ke arah mereka. Tatapannya kosong. dan seketika dunianya gelap...
***
Nostalgia itu tidak serta merta hilang dari bayangan wanita muda itu...jalanan panjang di pusat kota itu telah membawanya untuk bertemu dengan seseorang yang selama ini dia cari. Sungguh, ke ujung dunia pun belum tentu dia dapat menemukan sosok seperti yang dia inginkan. Tetapi ini, tidak perlu ke ujung dunia, hanyalah di pinggir jalan, trotoar penuh debu disertai dengan teriakan yang nyaring dari megafon serta asap dari kobaran api yang menemani matahari untuk kembali ke peraduannya.
Lensa itu seakan memiliki maksud untuk mempertemukan mereka berdua. Ya, si wanita muda dan seorang pria yang kemudian menjadi kekasih hatinya. Pada awalnya, tatapan itu seakan tidak pernah berarti. Hanya tatapan seorang wanita yang bingung akan keadaan di sekitarnya. Si wanita sebenarnya tidak tahu bahwa ada ancaman yang sedang mengintainya. Ancaman dari sebuah panah asmara yang hendak menusuk jantungnya dalam-dalam. Dari manakah panah itu berasal gerangan? Si wanita tidak akan pernah menyadarinya. hingga suatu ketika... dua tangan itu menyatu.
***
“Aku pernah melihatnya di sebuah cakrawala...”, kata si pria kepada wanita yang kini sedang duduk di sampingnya.
“Apa yang kau lihat?”, tanya si wanita.
“Aku melihat sebuah harta...”, kata si pria.
“Harta yang selama ini aku cari...”, lanjut si pria.
“...”
“Mungkinkah harta yang dia maksud itu adalah aku?”, tanya wanita itu dalam hati.
Dia tidak mau besar kepala dan mengira bahwa harta yang dimaksud oleh si pria adalah hatinya. Baginya, memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan pria itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Meskipun dia seorang wanita, tetapi dia tidak memiliki banyak keinginan dari si pria. Dia hanya menginginkan kasih sayang yang dia cari selama sembilan belas tahun. Kasih sayang yang berbeda. Kasih sayang yang dapat memenuhi hatinya. Kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari teman-temannya, tetapi dia dapatkan dari si pria itu. Hidupnya kini... menjadi nyata...dan hatinya kini... menjadi penuh...

Tidak ada komentar: